hokkers88@gmail.com

Email

Apartemen Bassura City Tower Geranium, Kios G/AL/09

Kantor Pusat

Cara Millennial Beli Rumah di Usia Muda

millennial beli rumah

Cara Millennial Beli Rumah di Usia Muda

Generasi milenial dianggap kesulitan dalam membeli hunian pertama mereka, baik rumah tapak ataupun apartemen. Padahal Sandang, pangan dan papan adalah kebutuhan dasar. Papan atau rumah kadang tidak hanya jadi tempat tinggal, tapi juga jadi aset investasi, karena harganya yang selalu naik.

Memiliki properti menurut millennial bukan merupakan kebutuhan utama. Mereka lebih menekankan pada pemenuhan gaya hidup seperti pakaian, makanan dan minuman, traveling, dan hobi. Namun demikian, pastinya Hokkers tidak mau kan sampai umur 40 tahun, sudah berkeluarga tapi masih tinggal bersama orang tua.

Millennial mungkin pesimis memiliki rumah sendiri karena tingginya harga rumah, mahalnya bunga KPR, dan sulitnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak. Untuk pembelian hunian, milenial dapat memanfaatkan skema pembiayaan seperti Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/KPA) yang disediakan oleh bank.

Hokkers, properti dapat dijadikan investasi lho! Hunian termasuk salah satu investasi yang relatif aman karena kenaikan harga yang cenderung stabil. Properti dengan harga 400juta yang dibeli tahun 2016 pada umumnya saat ini harganya bisa mencapai 1M, naik lebih dari 100% dalam waktu 7 tahun! 

Alasan Millennial Segera Beli Rumah

1. Harga naik terus

Alasan pertama untuk membeli rumah sedini mungkin adalah harga rumah yang memiliki kemungkinan untuk naik secara signifikan setiap tahun. Kondisi ini biasanya didukung oleh lokasi yang potensial. Semakin lama Hokkers menunda untuk membeli rumah, semakin sulit Hokkers menjangkau harga rumah dan semakin besar juga dana yang harus disiapkan.

2. Usia terus bertambah

Semakin lama Hokkers menunda rencana membeli rumah, semakin sedikit waktu yang Hokkers miliki untuk mengumpulkan dana. Selain itu jika Hokkers memutuskan mengajukan KPR/KPA, semakin kecil kemungkinan pinjaman Hokkers diterima karena batas usia pelunasan kredit biasanya adalah 55 tahun. Menunda pembelian rumah tidak akan membantu meningkatkan kemampuan membeli, karena walaupun penghasilan Hokkers meningkat tetapi harga rumah juga meningkat juga.

3. Lahan perumahan semakin sempit

Tingginya permintaan akan tempat tinggal membuat para developer semakin agresif mengembangkan properti. Semakin lama Hokkers menunda, semakin sulit Hokkers menemukan lahan perumahan dengan lokasi strategis dengan harga yang terjangkau. Namun, sebelum memutuskan untuk membeli rumah, Hokkers perlu untuk berpikir ulang apakah benar-benar membutuhkan rumah? Untuk menentukan tujuan pembelian rumah tersebut.

Hunting rumah sebanyak mungkin, jangan berhenti di 2-3 pilihan. Hokkers juga jangan hanya mencari perumahan baru, perlu juga untuk melihat rumah bekas/second, serta bisa juga mencari rumah yang gagal kredit atau cicilannya macet. Tidak kalah penting juga, Hokkers juga perlu untuk memerika perihal status legalitasnya, mulai dari Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Sertifikat Hak Milik (SHM), dan lain-lain.

Lokasi menjadi salah satu poin penting yang harus Hokkers pertimbangkan dengan matang. Hokkers wajib mengetahui lokasi tersebut strategis atau tidak. Jangan sekedar melihat iklan untuk menentukan lokasi strategis atau tidak, tapi dibutuhkan observasi mendalam untuk bisa mendapatkan keuntungan maksimal di kemudian hari.

4. Semakin lama menunda, pilihan semakin sedikit

Selain pertimbangan-pertimbangan di atas, Hokkers juga perlu melihat semua kemungkinan. Ingin rumah yang tanahnya luas tapi bangunannya kecil atau bangunan luas dengan tanah kecil, rumah dengan lokasi di pinggir kota atau tengah kota. Mungkin sebagian dari Hokkers ada yang membeli kavling tanah lalu membangun rumah sendiri, mungkin ada juga yang membeli rumah second lalu merenovasi sendiri. Pilihan-pilihan tersebut akan menghasilkan hasil yang berbeda. Yang pasti, segeralah memilih karena semakin lama menunda, pilihan Hokkers juga semakin sempit.

Memiliki rumah di usia muda merupakan impian banyak orang. Lalu, bagaimana langkah-langkah yang bisa Hokkers sebagai millennial lakukan untuk bisa memiliki rumah sesegera mungkin? Berikut adalah…

Cara Millennial Menabung untuk Beli Rumah

1. Tentukan budget rumah yang ingin dibeli

Hal pertama kali yang bisa Hokkers lakukan yaitu menentukan harga rumah yang Hokkers inginkan. Tentukan target yang masuk akal dan sesuai dengan penghasilan Hokkers saat ini dan kemungkinan peningkatan penghasilan beberapa tahun ke depan. Hokkers bisa survei lokasi yang kira-kira masuk ke budget tersebut. Agar meringankan, coba cari lokasi yang menawarkan harga rumah terjangkau.

Misalnya di daerah pinggiran Jakarta seperti Depok, Tanggerang, atau Bekasi. Daerah Depok yang dekat dengan Stasiun Kereta Citayam masih menawarkan harga rumah di sekitar angka 350 juta-an. Jika target Hokkers adalah lima tahun lagi, tentu terdapat kenaikan harga di tahun mendatang. Kenaikan harga rumah biasanya berkisar di 7% per tahun. Untuk dapat membeli rumah tersebut. Dana yang harus Hokkers miliki lima tahun ke depan adalah 490 juta.

2. Millennial disiplinlah menabung uang muka untuk beli rumah

Kesulitan utama milenial dalam membeli rumah adalah tidak memiliki dana untuk membayar uang muka yang merupakan prasyarat KPR. Karena itu, mau tidak mau, uang muka harus dikumpulkan jika ingin punya rumah. Bagaimana cara mengumpulkan down payment?

Langkah paling awal adalah menabung dari penghasilan. Namun, tidak sedikit yang tidak bisa mengelola keuangannya dengan baik, sehingga sulit mengumpulkan uang muka. Cara paling efektif adalah dengan menetapkan jumlah tabungan yang akan Hokkers simpan setiap bulannya, minimal sebesar 30% dari penghasilan bulanan. Pisahkan uang tersebut pada rekening khusus dan selalu utamakan menabung setiap kali gaji baru diterima. Jangan menunda menabung sampai akhir bulan, namun saat gaji diterima, langsung disisihkan untuk uang muka.

3. Mencari side hustle

Mencari pekerjaan sampingan adalah salah satu solusi yang bisa Hokkers lakukan jika pekerjaan utama Hokkers memberikan penghasilan yang pas-pasan. Sulit bagi Hokkers untuk mengumpulkan uang muka rumah jika hanya mengandalkan gaji utama yang jumlahnya habis untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Cari sebuah pekerjaan sampingan yang dapat Hokkers lakukan tanpa menggangu pekerjaan utama. Hokkers dapat mengerjakan pekerjaan sampingan ini setelah pulang kerja atau di akhir pekan. Contoh pilihan pekerjaan yang dapat Hokkers lakukan adalah menjadi freelancer. Perkembangan teknologi telah memungkinkan Hokkers untuk dapat mengakses pekerjaan secara online, yang dapat Hokkers manfaatkan untuk memperoleh penghasilan tambahan sesuai dengan keahlian yang Hokkers miliki.

4. Segera berinvestasi

Menyimpan uang dan membiarkannya mengendap di tabungan dalam jangka waktu yang lama bukanlah sebuah pilihan yang bijak untuk dilakukan. Mulailah mencoba untuk melipat gandakan uang Hokkers dengan berinvestasi. Hokkers dapat memulai dengan ikut menanam modal di usaha yang dikelola teman atau keluarga. Selain itu, Hokkers juga dapat menginvestasikan uang dalam bentuk investasi yang lebih aman, seperti emas, deposito, dan reksadana.

5. Millennial hematlah pengeluaran untuk beli rumah

Untuk dapat mengumpukan dana uang muka pembelian rumah, Hokkers harus mengelola keuangan dengan seimbang, pengeluaran tidak lebih besar dari pendapatan dengan cara menekan pengeluaran. Pengeluaran yang paling mudah ditekan adalah dengan kurangi makan di restoran atau kafe. Hokkers dapat membawa bekal. Ketika Hokkers memasak di rumah Hokkers bisa dengan hati-hati memilih bahan makanan. Jangan membeli sesuatu yang mendadak di luar pos pengeluaran bulanan Hokkers, apalagi hal tersebut tidak bersifat “wajib”. Pertimbangkanlah untuk membeli barang bekas pakai/second yang menawarkan harga terjangkau. Selain itu, biaya transportasi juga menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar. Catat pengeluaran dan evaluasi secara berkala agar mencapai target yang telah Hokkers tentukan.

Kesimpulan

Jika Hokkers sudah melakukan kelima hal di atas, saatnya Hokkers menargetkan waktu untuk mengumpulkan uang muka. Sekarang kita akan menghitung dana yang Hokkers perlukan untuk bisa memiliki hunian melalui skema cicilan KPR/KPA. Misal kita ingin membeli apartemen dengan harga 350 juta di daerah Bekasi atau Karawang. Umumnya, down payment rumah atau apartemen untuk KPR atau KPA adalah 30% dari total harga rumah.

Jadi Hokkers perlu menyiapkan dana sekitar 105 juta. Jika kita perinci, 105 juta dibagi 10 tahun akan menghasilkan 10.5 juta per tahun, 875 ribu per bulan, 30 ribu per hari. Jika Hokkers mulai menabung Rp 30 ribu setiap hari secara rutin selama 10 tahun mulai dari umur 15, maka saat Hokkers memasuki usia 25 tahun Hokkers sudah memiliki uang muka untuk membeli apartemen. Rumus ini juga dapat diterapkan para orang tua millennial yang memiliki anak generasi Y yang berusia 15 tahun.

Perhitungan lebih detailnya seperti di bawah ini, dengan mengasumsikan peningkatan gaji sebesar 30% per tiga tahun dan tidak ada return signifikan dalam tabungan. Jika Hokkers menabung 30% dari penghasilan Hokkers setiap bulan secara disiplin, kurang lebih 50–70 ribu setiap harinya, maka Hokkers akan mendapatkan dana sekitar 137 juta pada usia 24 tahun yang bisa dimanfaatkan sebagai uang muka pembelian rumah. Dengan cara ini, Hokkers sudah bisa memiliki rumah saat berusia 25 tahun. Untuk sisa pembayaran rumah (70% sisa total harga), Hokkers bisa melunasi dengan mencicil dari gaji yang umumnya naik 10% setiap tahunnya.

Jika Hokkers ingin cari hunian yang pas di kantong, hubungi kami ya!

Share

Mau Info Reguler dari Kami?