hokkers88@gmail.com

Email

Apartemen Bassura City Tower Geranium, Kios G/AL/09

Kantor Pusat

Fakta Menarik Tentang Investasi Tanah

investasi tanah

Fakta Menarik Tentang Investasi Tanah

Dewasa ini, masyarakat semakin menyadari pentingnya berinvestasi sedari muda utamanya di bidang properti khususnya investasi tanah. Investasi dinilai dapat menjadi instrumen yang tepat untuk memenuhi berbagai tujuan finansial di masa depan. Jika mengharapkan tabungan semata, tujuan finansial tersebut akan sulit tercapai karena nilai tabungan cenderung tergerus inflasi atau kenaikan harga di pasar.

Berbagai pilihan investasi pun hadir di masyarakat mulai dari yang sifatnya konvensional, seperti investasi emas, bangunan, dan emas sampai investasi-investasi risiko tinggi yang kini sudah bisa diakses hanya lewat aplikasi ponsel pintar di genggaman tangan.

Maraknya pilihan investasi yang bisa diakses secara daring, nyatanya tidak menyurutkan pesona jenis-jenis investasi konvensional yang sedari dulu sudah menjadi pilihan, seperti tanah, properti, maupun emas. Khususnya investasi tanah, banyak orang mengincarnya sebagai instrumen investasi karena diyakini memiliki banyak keuntungan.

Sebenarnya benarkah tanah merupakan jenis investasi yang paling menguntungkan dan layak diincar? Simak fakta-faktanya dahulu sebelum mulai berinvestasi.

1.  Kenaikan Harga Tinggi

Faktor utama dari tingginya animo masyarakat memiliki tanah sebagi investasi karena kenaikan harganya yang tinggi. Rata-rata dalam setahun, kenaikan harga tanah bisa mencapai 20-25%. Artinya hanya dalam 4-5 tahun jika Hokkers berinvestasi instrumen yang satu, harga investasi tanah Hokkers bisa mencapai 2 kali lipat dibandingkan pembelian awal.

Kenaikan harga tersebut bahkan bisa lebih tinggi apabila Hokkers membeli tanah di kawasan strategis. Untuk kawasan strategis ini, cobalah pilihan kawasan dekat dengan akses transportasi massal ketika melakukan pembelian tanah guna investasi. Kenaikan harga tanah di kawasan strategis bahkan bisa mencapai 100% hanya dalam waktu setahun.

2.  Bukan Investasi Murah

Tingginya kenaikan harga tanah dari waktu ke waktu membuat tidak semua orang bisa menjadikan instrumen ini sebagai pilihan investasi. Bayangkan saja jika 10-20 tahun lalu di kawasan Jakarta, satu meter persegi tanah bisa dibeli dengan harga Rp 500.000; sekarang Hokkers mesti merogoh kocok minimal berkisar Rp 5-7 juta untuk tiap meter persegi tanah.

Jelas nilai tersebut membuat instrumen ini tidak tergolong sebagai investasi yang murah. Apalagi ketika memutuskan untuk melakukan investasi properti, Hokkers pastinya tidak mungkin hanya membeli 1-2 meter persegi tanah. Karena itu untuk memiliki instrumen investasi yang satu ini, Hokkers mesti menyediakan puluhan hingga ratusan juta.

3.  Harga Juga Bisa Turun

Jangan terlalu bermimpi besar jika sudah mempunya sepetak tanah. Kemungkinan kenaikan harga yang tinggi sangat mungkin memang Hokkers peroleh. Namun, ada juga kemungkinan harga tanah yang Hokkers miliki menurun.

Faktor-faktor yang membuat harga tanah turun salah satunya adanya bencana alam di kawasan tersebut, seperti banjir ataupun tanah longsor. Pembangunan sarana fasilitas umum yang kurang ideal, seperti pemakaman dan tempat pembuangan sampah, juga bisa berkontribusi pada turunnya harga tanah di suatu kawasan. Meskipun demikian, penurunan harga tanah biasanya tidak terlalu signifikan.

4.  Punya Nilai Tambah

Selain mempunya keuntungan berupa kenaikan harga, ketika Hokkers memilih tanah sebagai sarana investasi, Hokkers juga punya kesempatan untuk mengelola instrumen tersebut sehingga memiliki nilai tambah. Contohnya ketika Hokkers memiliki tanah yang cukup luas, Hokkers bisa membuat area tanah kavling.

Dengan model pengelolaan tersebut, Hokkers bisa mendapatkan keuntungan berkali lipat karena harga tanah kavling relatif lebih tinggi dibandingkan tanah biasa. Jika Hokkers mempunyai modal lebih besar, buatlah klaster dalam area tanah yang Hokkers miliki. Orang-orang akan berlomba untuk membelinya dengan harga tinggi sebab mengincarnya sebagai investasi dan bangunan sekaligus.

5.  Bisa Dibuat Usaha Lain

Ketika mau membeli tanah, mempertimbangkan jenis investasi sawah ataupun investasi kebun sangat dianjurkan. Pasalnya dengan membeli jenis-jenis tanah tersebut, Hokkers dapat membuat usaha lain di tanah garapan tersebut, tidak sekadar sebagai investasi pasif.

Sebagai contoh ketika Hokkers memutuskan investasi di perkebunan, Hokkers bisa mengelolanya menjadi perkebunan buah yang potensial menghasilkan keuntungan secara berkala. Begitu pula ketika Hokkers memutuskan untuk melakukan investasi sawah. Namun, pastikan ketika Hokkers memutuskan membeli tanah untuk dibuat usaha lain, jenis tanah tersebut memang cocok untuk usaha tersebut.

6.  Tidak Hasilkan Pendapatan Pasif

Sebaliknya, jangan berharap Hokkers bisa memperoleh pendapatan pasif secara berkala ketika melakukan investasi atas sebidang tanah. Meski mengeluarkan dana bermiliaran rupiah untuk melakukan jenis investasi tersebut, pendapatan pasif tidak akan Hokkers peroleh jika tidak ada usaha lain yang Hokkers lakukan di bidang tanah yang Hokkers beli.

Pendapatan pasti yang bisa Hokkers peroleh dari investasi atas sebidang tanah hanya berasal dari kenaikan harga tanah tersebut ketika Hokkers menjualnya. Meski demikian, perolehan keuntungan penjualan tersebut akan sangat menarik, mengingat kenaikan harga tanah yang tinggi tiap tahunnya.

7.  Tingkat Likuiditas Rendah

Dari berbagai jenis investasi yang ada sampai saat ini, bisa dibilang tanah termasuk kategori investasi yang nilai likuiditasnya rendah. Dalam artian, Hokkers bisa memperoleh dana cair secara cepat dari jenis investasi yang satu ini.

Tingkat likuiditas tanah yang rendah kembali ke harga tanah yang memang tinggi dan tidak bisa dibilang dalam luas sangat sempit. Tingginya harga tanah membuat Hokkers memerlukan waktu cukup lama, bahkan ada yang bertahun-tahun, sampai akhirnya bisa menjual tanah yang diinvestasikan sesuai nilai yang diharapkan.

8.  Cocok Sebagai Investasi Jangka Panjang

Sifat tanah bisa jadi memang memiliki likuiditas rendah. Namun yang mesti Hokkers tekankan justru, harga tanah hampir bisa dipastikan memiliki tingkat kenaikan sangat tinggi dibandingkan investasi lain. Karena itulah, tanah sangat cocok dijadikan sebagai instrumen investasi jangka panjang.

Hokkers bisa menjadikan tanah sebagai instrumen investasi jangka panjang untuk tujuan finansial lebih dari lima tahun ke depan. Pastikan ketika Hokkers hendak menjualnya, Hokkers sudah merencanakan secara matang dan mempertimbangkan masa penjualan yang mencapai berbulan-bulan. Penjualan secara mendadak hanya akan membuat harga tanah yang Hokkers investasikan tidak optimal.

9.  Investasi yang Tidak Banyak Perawatan

Memilih investasi tanah membuat Hokkers tidak direpotkan dengan berbagai biaya perawatannya. Berbeda jika Hokkers memiliki melakukan investasi properti yang membutuhkan biaya perawatan berkala yang cukup besar untuk memastikan kelayakannya sebelum dijual kembali.

Biaya perawatan untuk investasi tanah sangat minim. Setidaknya, Hokkers hanya memerlukan pagar untuk membatasi tanah Hokkers dari tanah orang lain. Pagar tersebut juga berfungsi untuk memastikan tanah tersebut memiliki status kepemilikan.

10.  Keamanan Lebih Terjamin

Ketika Hokkers berinvestasi reksadana, saham, atau bahkan emas ada risiko kehilangan yang mesti Hokkers waspadai. Kehilangan di reksadana atau saham lebih ke arah pengurangan nilai. Sementara itu, kehilangan untuk jenis investasi emas lebih ke arah hilangnya objek akibat pencurian, terselip ataupun situasi yang tidak diharapkan lainnya.

Ini berbeda ketika Hokkers berinvestasi di atas sebidang tanah. Keamanan nilai dan objek akan lebih terjamin. Bahkan jika terjadi bencana alam, instrumen investasi Hokkers tidak berubah selama Hokkers memiliki kelengkapan surat kepemilikan tanah tersebut.

Dengan berbagai fakta di atas, Hokkers mungkin akan semakin tertarik untuk membeli tanah sebagai sarana investasi. Namun yang mesti Hokkers ingat, tujuan finansial Hokkers tidak mungkin tercapai jika hanya mengandalkan keuntungan dari investasi berupa uang.

Mau berinvestasi tanah, hubungi kami.

Share

Mau Info Reguler dari Kami?